Zakat sebagai Jalan Pembangunan Manusia: Negara Hadir Melalui Masjid di Bangka Barat

Spread the love

Bangka Barat — Mpidtv.com
Siti Rahmah (56) melangkah keluar dari Masjid Agung Baiturrahman Mentok sambil menggenggam sebuah amplop putih. Di dalamnya terdapat bantuan zakat yang ia terima siang itu. Namun yang paling membekas bagi janda penjual kue kecil di pinggir Kota Mentok tersebut bukanlah nilai bantuan, melainkan pengalaman yang jarang ia rasakan adalah dipanggil namanya, ditanya kabarnya dan diakui keberadaannya oleh negara.

“Bukan soal uangnya saja. Hari ini saya merasa diperhatikan,” ujarnya, Selasa (20/1/2026).

Hari itu, bertepatan dengan peringatan Hari Ulang Tahun ke-25 Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Republik Indonesia, Masjid Agung Baiturrahman Mentok tidak hanya menjadi tempat ibadah. Ia juga menjadi ruang pelayanan sosial, tempat perjumpaan antara negara dan warga yang selama ini berada di lapisan paling bawah struktur sosial.

 

 

Peringatan HUT ke-25 BAZNAS di Bangka Barat berlangsung tanpa kemasan seremonial berlebihan. Tidak ada baliho besar atau janji politik. Negara hadir dalam bentuk yang lebih konkret yaitu penyaluran zakat kepada mustahik, layanan kesehatan gratis bagi warga lanjut usia, serta kegiatan pendidikan nilai bagi anak-anak.

Wakil Bupati Bangka Barat, H. Yus Derahman, yang hadir mewakili Bupati, menyebut BAZNAS sebagai mitra strategis pemerintah daerah.

“BAZNAS telah menjadi mitra strategis pemerintah daerah dalam pengentasan kemiskinan, pemberdayaan ekonomi umat, peningkatan kualitas pendidikan, serta layanan kesehatan masyarakat,” katanya dalam sambutan resmi.

Di sela kegiatan, Wakil Bupati terlihat berbincang dan berjabat tangan dengan sejumlah penerima zakat. Gestur tersebut menjadi simbol pendekatan negara yang lebih dekat dengan warga penerima manfaat.

Ketua BAZNAS Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Guntur Budi Wibowo, menegaskan bahwa zakat tidak boleh berhenti pada bantuan sesaat.

“Zakat harus ditempatkan sebagai alat perubahan struktural. Ia bukan hanya kewajiban ritual, tetapi instrumen untuk mengangkat martabat rakyat dan mengurangi ketimpangan,” ujarnya.

Dalam kurun waktu kurang dari dua bulan sejak mulai aktif, BAZNAS Provinsi Kepulauan Bangka Belitung telah melakukan tiga kali penyaluran zakat kepada 260 mustahik. Seluruh data penerima diserahkan kepada pemerintah daerah sebagai bagian dari upaya transparansi.

“Kami ingin publik mengetahui bahwa zakat tidak berhenti di laporan, tetapi hadir di kehidupan nyata,” kata Guntur.

Model kerja ini menunjukkan pembagian peran yang jelas antara pemerintah daerah menyediakan legitimasi dan dukungan kebijakan, sementara BAZNAS mengelola distribusi zakat sebagai instrumen keadilan sosial.

Selain bantuan ekonomi, zakat juga dimanfaatkan untuk layanan kesehatan gratis. Di salah satu sudut masjid, petugas medis memeriksa tekanan darah dan kadar gula darah para lansia.

Pak Ahmad (68), salah seorang penerima layanan, mengaku baru mengetahui tekanan darahnya tinggi pada hari itu.

“Saya jarang ke puskesmas. Jauh dan ongkosnya tidak selalu ada,” katanya.

Bagi warga seperti Ahmad, layanan kesehatan berbasis zakat menjadi akses awal untuk mengetahui kondisi kesehatan mereka, tanpa prosedur administrasi yang rumit.

“Inilah bentuk pembangunan yang langsung menyentuh kebutuhan dasar masyarakat,” kata Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Ustadz M. Yasir Mustafa.

Dalam pidatonya, Ustadz Yasir menekankan bahwa zakat bukanlah bentuk belas kasihan, melainkan hak fakir dan miskin yang melekat dalam harta orang mampu.

“Zakat tidak akan membuat seseorang miskin. Justru membuka keberkahan, baik pada harta maupun pada kehidupan,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan pesan Gubernur Kepulauan Bangka Belitung yang mengapresiasi kinerja BAZNAS dalam penyaluran zakat yang dinilai tepat sasaran.

Kepada para penerima zakat, ia menyampaikan harapan jangka panjang.

“Yang hari ini menerima zakat, diharapkan suatu saat akan menjadi muzakki,” katanya.

Pesan tersebut mencerminkan visi zakat sebagai jembatan menuju kemandirian, bukan ketergantungan.

Kegiatan peringatan HUT BAZNAS juga diisi dengan lomba kaligrafi bagi anak-anak dan pelajar. Aisyah (11), salah satu peserta, mengikuti lomba dengan serius.

“Saya ingin jadi juara,” katanya singkat.

Bagi BAZNAS, kegiatan ini dimaksudkan sebagai bagian dari pendidikan nilai. Zakat tidak hanya menyentuh aspek ekonomi dan kesehatan, tetapi juga pembentukan karakter dan peradaban.

“Masjid harus menjadi pusat ibadah sekaligus pusat pemberdayaan,” ujar Guntur.

Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2011 menempatkan zakat sebagai bagian dari sistem kesejahteraan sosial nasional. Namun, meski potensi zakat nasional diperkirakan mencapai ratusan triliun rupiah per tahun, realisasi penghimpunannya masih relatif rendah.

Salah satu tantangan utama adalah kepercayaan publik.

Apa yang ditunjukkan di Mentok memberikan gambaran bahwa kehadiran negara, tata kelola yang transparan, serta manfaat yang dirasakan langsung oleh masyarakat dapat menjadi kunci untuk meningkatkan partisipasi zakat.

Bangka Barat masih menghadapi berbagai persoalan, mulai dari keterbatasan akses layanan hingga ketimpangan sosial. Namun kegiatan di Masjid Agung Baiturrahman Mentok menunjukkan bahwa pembangunan manusia tidak selalu harus dimulai dari proyek besar.

Ia bisa berawal dari komunitas, dari masjid, dan dari pendekatan yang menempatkan manusia sebagai pusat kebijakan.

Menjelang siang, kegiatan berakhir dan masjid kembali lengang. Namun bagi Siti Rahmah, Pak Ahmad dan anak-anak yang mengikuti lomba kaligrafi, hari itu meninggalkan pengalaman yang lebih dari sekadar acara peringatan.

Di usia seperempat abad, BAZNAS bersama Pemerintah Kabupaten Bangka Barat menegaskan bahwa zakat, jika dikelola secara amanah dan terintegrasi dengan kebijakan publik, dapat menjadi salah satu jalan pembangunan manusia yang berkelanjutan.*
(Tim redaksi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *